Antara Gengsi Dan Harga Diri
Antara Gengsi Dan Harga Diri
Gengsi Demi Harga Diri
Berbicara soal gengsi harus dikaitkan dengan pekerjaan dan berpenampilan.
Ada orang yang menempatkan gengsi sejajar dengan kemampuan perusahaan, kepandaian, ataupun prestasi dalam pekerjaan. Gengsi itu sebenarnya perlu, tapi bukan untuk saling bersaing. Kalau niatnya hanya ingin bersaing, untuk show of force, itu tidak perlu. Dalam hal berpenampilan misalnya, ada rekan kerja kita yang menonjolkan dirinya dengan memakai handphone Samsung Galaxy Z Fold 2 dengan harga pasaran 30 jutaan misalnya, dan kita juga tidak mau kalah memakai handphone tipe yang sama. Nah, hal semacam ini sebaiknya dihindari. Sebab kita harus melihat, apakah kita mampu dan cocok atau tidak menggunakan handphone seperti itu? Gengsi itu sekali - sekali memang perlu, jika kita berada pada sebuah lingkungan tertentu. Tapi, sebaiknya tidak mencolok dan kita harus sadar situasi. Kalau kebetulan kita bertemu dengan orang sederhana dan tidak materialistis, maka kita bisa jadi out of place. Tapi, kalau kita diundang ke tempat resmi, kita memang harus mempunyai sikap bergengsi. Dalam arti, tidak harus glamour dan berpakaian wah, melainkan yang penting itu rapi dan necis. Sebab, adalah suatu keharusan kita berpakaian necis dan rapi untuk menghormati orang yang mengundang. Orang bergengsi, sekali - sekali memang ada manfaatnya. Agar orang lebih percaya, dan tahu dia itu memegang jabatan apa. Karena budaya kita masih menganut sistem status, jadinya orang harus berpenampilan baik. Memang banyak orang hanya melihat bagian luarnya saja. Tapi, itu toh kadang - kadang perlu untuk first impression. Di dunia bisnis tampaknya memang menjadi satu keharusan untuk lebih bergengsi, supaya lebih preventable dan kelihatannya formal. Saya memandang gengsi itu tidak apa -apa, asal tidak berlebihan.
Sebab, kita harus tahu gengsi itu fungsinya untuk apa. Kalau berkaitan dengan pekerjaan yang diinginkan, tentu dia berpura-pura memakai segala atribut, agar kelihatan mantap. Tapi, jika gengsi dibuat menjadi bahan arogansi, tentu akan bersifat negatif. Karena itu, kita harus dapat melihat gengsi itu bagusnya untuk apa. Jangan kita menganggap gengsi itu hanya untuk sok saja. Belum.tentu. Saya sendiri memandang gengsi bukan berarti suatu kesombongan meskipun ada beberapa orang yang berpendapat bahwa gengsi itu bagian dari kesombongan. Pengertian saya mengenai gengsi jangan diartikan sebagai suatu sikap yang arogan. Tapi, gengsi di sini, menurut saya, sesuatu yang menyangkut soal harga diri. Kalau kita berbicara tentang harga diri, okey, saya sepakat.
Sebab, menurut saya, harga diri atau gengsi itu penting dan mutlak.
Segala yang saya miliki boleh hilang, tapi satu hal yang tidak boleh lenyap adalah harga diri. Harga diri dalam konteks semacam ini, menurut saya akan memunculkan suatu sikap kemandirian yang tuntas. Artinya, tidak larut dalam pola mekanisme yang salah. Misalnya, dalam hal tender atau mendapatkan proyek, kalau kita dilengkapi harga diri, kita akan lebih mengutamakan kualitas pekerjaan yang diperoleh dibanding keuntungan semata. Lantas, kalau saya mengerjakan suatu pekerjaan yang merupakan trade mark, tentu itu mempunyai nilai lebih. Tapi, kalau gengsi dikaut dengan arogansi seorang pengusaha sesuai dengan status ekonominya ceritanya jadi lain. Saya cenderung bicara makna gengsi sebagai harga diri. Saya kira, setiap manusia selalu menjaga harga diri dalam kehidupan sehari - hari, entah sebagai seorang birokrat, pengajar, petani, pengusaha atau siapapun mereka. Kebetulan, saya sendiri bukan pengusaha, karena sisi lain pekerjaan saya adalah sebagai petani biasa. Dalam trend globalisasi sekarang ini, kelompok pengusaha nantinya akan tumbuh menjadi potensi - potensi ekonomi. Baik itu potensi ekonomi internasional, misalnya perusahaan - perusahaan transnasional seperti toko - toko retail besar yang ada di Indonesia, ataupun pertumbuhan perusahaan - perusahaan nasional yang cukup mapan. Kalau tidak hati - hati, akan timbul sikap arogansi. Sebagai contoh, seorang konsultan diminta untuk merancang sebuah pabrik. Dari satu sisi, sebenarnya team konsultan dapat memperoleh fee yang cukup tinggi. Tapi, dari segi lain, dampak lingkungan yang diakibatkannya merugikan masyarakat luas. Alhasil, direksi dan staf konsultan tidak jadi mengerjakannya. Mungkin, ini dianggap suatu kebodohan. Tapi, kebodohan ini harga diri suatu team konsultan tersebut lantaran masih memiliki idealisme. Bagi saya, sikap orang per orang itu sangat tergantung situasi dan kondisi di mana dia berada. Kalau dia tidak selalu menguji jati dirinya, maka dia akan berubah. Misalnya, gengsi seorang pengusaha dalam pemakaian kendaraan. Untuk kelas dan tipe tertentu, mungkin keberatan jika harus naik bis kota.
Misalnya saja para direksi ternama yang ada di Jakarta tidak pernah keberatan naik kereta monorell
ta. Tapi, di sini, seorang direktur perusahaan kecil naik bus kota pun mungkin tidak bisa diterima. Sebab, pandangan masyarakat, baik kalangan pengusaha atau birokrat, menganggap dia tak mempunyai sesuatu yang dipertaruhkan dalam posisinya. Gengsi itu seolah bisa datang karena penilaian masyarakat. Dulu, seseorang dihargai karena kehadirannya di masyarakat. Tapi, sekarang dihargai karena memiliki materi berlimpah. Ini merupakan konsekuensi logis dari pola ekonomi pasar. Sekarang disinyalir ada arogansi yang mengarah kepada kesombongan. Kalau ketemu teman tidak naik Mercedes Benz tahun mutakhir, malu. Bahkan, sekarang saya dengar tingkatannya bukan mobil lagi, tapi pemilikan pesawat jet pribadi. Apa nggak hebat? Kalau kita kembali kepada masalah fungsi, semua itu kan just transportasi. Apakah itu bukan termasuk highest cost ekonomi? Akhirnya, orang terjebak dalam gengsi, terjebak dalam situasi yang mengarah pada kesombongan. Tapi, harus diingat bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita semua harus mempunyai etika. Dan, dari sanalah kita harus berpijak.
Belum ada Komentar untuk "Antara Gengsi Dan Harga Diri"
Posting Komentar